Laporan Earnings Pro · 23 Mei 2026
Earnings Flash: PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) Q1-2026
Executive Summary
PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) mencatatkan pendapatan Rp 962.6 miliar di Q1-2026, tumbuh 7.5% YoY, dengan laba bersih Rp 128.8 miliar yang naik 23.2% YoY. Meskipun laba bersih tumbuh signifikan, margin laba kotor tercatat 51.1% dan net profit margin 11.6%, namun valuasi saham sangat tinggi dengan PER 333.3x dan PBV 21.87x. Di tengah tekanan rupiah yang melemah ke Rp 17.712 per USD dan IHSG yang hanya menguat tipis, angka valuasi ini menjadi perhatian utama.
Transmission Mechanism
Kenaikan laba bersih MORA sebesar 23.2% YoY terjadi di tengah tekanan makro yang berat, terutama pelemahan rupiah ke level Rp 17.712 per USD. Jika MORA memiliki eksposur utang dalam dolar AS (total utang Rp 5.5 triliun), beban bunga dan kurs akan menggerus margin ke depan. Di sisi lain, kenaikan harga minyak Brent ke $100.21 per barel (+71.36% YoY) bisa mendorong biaya operasional, terutama jika MORA bergantung pada energi untuk infrastruktur jaringannya. Arus kas operasi yang kuat sebesar Rp 1.5 triliun dan free cash flow Rp 1.1 triliun memberikan bantalan likuiditas, tetapi suku bunga BI yang masih tinggi (asumsi) akan membatasi ekspansi berbasis utang. Skenario terburuk: jika rupiah terus melemah dan biaya energi naik, margin laba bersih 11.6% bisa tertekan, sementara valuasi saham yang sudah sangat tinggi membuat risiko koreksi harga semakin nyata.
Peer Comparison
Dibandingkan peer di sub-sektor telekomunikasi, MORA memiliki ROE 7.0% yang berada di bawah rata-rata sektor 8.1%, dan jauh di bawah TLKM (14.6%), ISAT (13.9%), SUPR (16.5%), serta TBIG (12.2%). PER MORA 333.3x sangat tidak wajar dibandingkan rata-rata PER sektor 26.0x, bahkan lebih tinggi dari SUPR yang 107.0x. PBV MORA 21.87x juga jauh di atas peer seperti TLKM (2.14x) dan ISAT (1.91x), menunjukkan valuasi yang sangat premium tanpa diimbangi profitabilitas yang sebanding.
Forward Alert
Pertama, pergerakan USD/IDR pada level 17.712 perlu dipantau karena pelemahan rupiah lebih lanjut dapat meningkatkan beban utang valas MORA. Kedua, harga minyak Brent yang melonjak 71.36% ke $100.21 per barel berpotensi menekan biaya operasional jika MORA memiliki ketergantungan energi. Ketiga, rilis data inflasi Indonesia dan keputusan suku bunga BI pada Juni 2026 akan menjadi katalis makro yang mempengaruhi daya beli konsumen dan biaya pendanaan perusahaan.
PRO
Setelah beta selesai, analisis Pro seperti ini akan jadi Rp 89.000/bulan. Selama beta, akses penuh tersedia gratis.