27 MEI 2026
Makro

GDP, inflasi, kebijakan moneter dan fiskal

Makro

Proposal Anggaran Militer AS $1,5 Triliun – Potensi Tekanan bagi Rupiah dan IHSG

Pemerintahan Trump mengajukan proposal anggaran militer senilai US$1,5 triliun untuk tahun fiskal 2027, naik 66% dibandingkan tahun sebelumnya. Ini adalah rekor tertinggi dalam sejarah AS, dengan target meningkatkan alokasi pertahanan dari 3% menjadi 4,5% PDB. Menteri Pertahanan Pete Hegseth membela proposal ini di hadapan Kongres dengan dalih untuk mengatasi ancaman dari China dan Rusia, serta memulihkan kesiapan alutsista yang terkuras akibat perang di Ukraina dan Iran. Namun, jalan menuju persetujuan masih panjang. Kongres AS terbelah: Partai Republik sendiri tidak sepakat tentang prioritas belanja, sementara Demokrat diprediksi menolak keras karena proposal ini berbarengan dengan rencana pemotongan belanja sosial sebesar 10% (US$73 miliar) untuk mendanai militer. Pemotongan itu menyasar kesehatan, layanan sosial, dan sektor lain yang menurut Trump dapat dialihkan ke negara bagian. Selain itu, kurangnya transparansi soal perang di Iran dan ancaman kekalahan dalam pemilu paruh waktu semakin mempersulit negosiasi. Dampak global dari kebijakan fiskal AS ini tidak bisa diremehkan. Jika terealisasi, defisit anggaran AS akan melebar, mendorong imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) lebih tinggi. Saat ini imbal hasil US 10-year sudah berada di 4,56%, dan US 2-year di 4,13% — level yang memberikan daya tarik bagi investor global untuk mengalihkan dana dari aset berisiko ke aset aman di AS. Indeks dolar AS (DXY) yang berada di 119,29 sudah tinggi, dan tekanan lebih lanjut dapat memicu arus keluar modal dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Bagi Indonesia, dampak utamanya adalah melalui dua jalur: pertama, tekanan pada nilai tukar rupiah yang saat ini berada di Rp17.783 per dolar AS — level terlemah dalam satu tahun terakhir. Kedua, potensi kenaikan yield Surat Utang Negara (SUN) yang memperbesar beban bunga utang pemerintah, terutama di tengah defisit APBN yang sudah mencapai Rp240 triliun per Maret 2026. IHSG yang berada di level 6.130 juga rentan terhadap aksi jual asing jika sentimen risk-off meningkat. Sektor komoditas, seperti CPO dan batu bara, mungkin mendapat keuntungan dari potensi kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik, tetapi penguatan dolar bisa menekan harga komoditas dalam dolar. Yang perlu dipantau adalah proses legislasi di Kongres AS dalam 4–8 minggu ke depan. Jika lolos, tekanan terhadap rupiah dan IHSG bisa berlanjut. Sebaliknya, jika gagal atau dipotong signifikan, sentimen dapat berbalik mendukung aset emerging market.

Tim Redaksi Feedberry · 27 Mei 2026