27 MEI 2026
Forex & Crypto

Berita forex, kripto, dan aset digital

Forex & Crypto

Dolar Global Melemah, Rupiah Justru Tertekan ke 17.783

Indeks dolar AS (DXY) turun ke 99,07—terendah sejak 15 Mei—dan mata uang Asia mayoritas menguat. Won Korea memimpin dengan apresiasi 0,6%, sementara yuan China mendekati level tertinggi tiga tahun ditopang data laba industri yang melonjak 24,7% YoY. Namun, rupiah justru melemah 0,09% ke level 17.783 per dolar AS, bertolak belakang dengan pergerakan regional. Anomali ini disebabkan oleh faktor domestik yang unik: harga minyak Brent yang masih di $94,93 per barel akibat ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz. Indonesia sebagai net importir minyak langsung merasakan tekanan biaya energi yang mendorong permintaan dolar untuk impor, sehingga rupiah melemah meski dolar global turun. Di sisi lain, yuan menguat karena data ekonomi China yang solid, namun analis Huatai Futures memperkirakan ruang penguatan yuan terbatas dengan kisaran 6,76–6,82 per dolar AS, mengingat sikap bank sentral China yang fokus pada stabilitas nilai tukar. PBOC menetapkan kurs tengah yuan lebih lemah 408 pips dari estimasi, menunjukkan niat mengendalikan laju apresiasi. Sentimen pasar global masih hati-hati setelah Iran menuduh AS melanggar gencatan senjata di Selat Hormuz, mengancam kelancaran pasokan energi dunia. Rupee India turut tertekan 8 paise ke 95,78 per dolar AS akibat kenaikan harga minyak yang memicu kekhawatiran inflasi. Perhatian pasar kini beralih ke rapat kebijakan Reserve Bank of India (RBI) pada 3-5 Juni, di mana spekulasi kenaikan suku bunga atau penahanan masih terbelah. Dampak ke Indonesia langsung dan signifikan. Biaya impor minyak yang lebih tinggi memperlebar defisit transaksi berjalan dan menekan nilai tukar. Emiten dengan utang dolar—terutama di sektor properti, maskapai, dan infrastruktur—menanggung beban kerugian kurs. Sebaliknya, eksportir komoditas seperti batu bara dan CPO diuntungkan karena pendapatan dalam dolar menjadi lebih besar dalam rupiah. IHSG yang bertahan di 6.130 berpotensi menghadapi tekanan outflow asing jika rupiah terus melemah, karena imbal hasil SBN menjadi kurang menarik bagi investor global. Yang perlu dipantau dalam 1-2 minggu ke depan: pertama, perkembangan negosiasi AS-Iran—setiap eskalasi baru bisa mendorong Brent menembus $100 dan memperkuat dolar kembali. Kedua, data inflasi AS (CPI atau core PCE) yang akan mempengaruhi ekspektasi suku bunga The Fed. Ketiga, respons Bank Indonesia melalui intervensi di pasar valas atau sinyal penyesuaian suku bunga. Keempat, pergerakan yuan dan won sebagai indikator sentimen risiko di Asia—jika keduanya terus menguat, rupiah akan semakin tertinggal.

Tim Redaksi Feedberry · 27 Mei 2026